Pages

 

Senin, 18 April 2011

"PERBAIKI GAYA ASUH ANAK DENGAN METODE IDENTIFIKASI SIDIK JARI KITA (ORANG TUA"

0 komentar
Pdpersi, Jakarta - Sudahkah para ibu memahami gaya asuhnya sendiri? Seberapa jauhkan pola asuh orang tua sesuai kebutuhan perkembangan anak yang optimal? Hal itu penting diketahui, karena ternyata tak sedikit orang tua melakukan pendekatan dan stimulasi yang belum begitu sesuai dengan kondisi anak. Pengasuhan ini penting disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak, mengingat anak merupakan individu unik yang berbeda satu sama lain.

Bagaimana cara mengenali pola asuh kita? Apakah kita disiplin atau justru penurut? Apakah kita cukup detail atau sebenarnya menerapkan sistem hukuman yang berlebihan? Untuk mengenali pola asuh kita, analisis sidik jari (fingerprint analysis) bisa dicoba. Sejumlah penelitian mengungkapkan, jemari Anda turut memengaruhi tumbuh kembang si kecil.

Analisis dimulai dengan menempelkan satu per satu jari ibu/ayah pada fingerprint scanner biometric system atau scanner khusus sidik jari. Titik-titik dan garis dalam gambar tersebut akan diteliti, diidentifikasi, serta diklasifikasi.

Indentifikasi itu akan dipetakan dalam grafik gaya asuh ibu/ayah, dengan dua diagram batang yang terdiri atas dua kutub, yakninaturing-nurturing dan responsive-analytical. Keterangan “lebih responsif” pada setiap diagram menunjukkan cara yang digunakan orang tua dalam mengasuh buah hati.

“Berdasarkan sidik jarinya, gaya asuh orang tua terbagi atas tipe asuh alamiah (naturing), membimbing (nurturing), responsif (responsive), dan analitis (analytical),” ujar psikolog anak dari Psychobiometric Research Efnie Indranie, MPsi di Jakarta, kemarin.

Wanita yang akrab disapa Pipin itu menerangkan, orang tua yang cenderung memberi kebebasan kepada anak mempunyai gaya asuh alamiah. Mereka lebih mengikuti alur perkembangan buah hati tanpa memberi batasan tertentu secara tegas.

“Misalnya anak mau sekolah musik, orang tuanya selalu menuruti. Kelemahan gaya asuh ini adalah anak cenderung memiliki manajemen batas yang rendah, sehingga sulit untuk me-manage waktu misalnya,” imbuh dia.

Untuk orang tua yang bergaya asuh membimbing, mereka condong memberi batasan-batasan terhadap anak dan memiliki pola pengasuhan tertentu. Jika anak memiliki tipe teratur (organized) maka pola pengasuhan tipe ini bisa diterapkan dengan baik.

Namun, jika si anak berkarakter tidak tetap atau fleksibel, si ibu biasanya lebih sering marah sehingga memicu stres anak. Orang tua yang mengalami kondisi ini dianjurkan untuk menurunkan standar batasannya agar anak tidak merasa tertekan.

“Biasanya, ibu tipe ini memiliki aturan terkait manajemen waktu, misalnya kapan anak harus mandi dan kapan mengerjakan PR. Kalau anak memiliki karakter fleksibel, hal itu bakal menjadi pemicu rasa kesal dan marah,” paparnya.

Tipe asuh responsif lain lagi. Orang tua tipe ini mudah mengambil keputusan yang berhubungan dengan anak. Biasanya, mereka mengikuti tren atau sesuatu yang baru.

“Misalnya lagi tren les aritmatika, anaknya diikutsertakan. Jika anak memang suka matematika, hal ini akan bermanfaat. Namun, tapi jika tidak sesuai dengan potensi atau gaya belajar anak, anak bisa stres,” terang dia.

Sementara itu, orang tua dengan gaya asuh analisis banyak pertimbangan dalam memutuskan segala sesuatu terkait sang anak. Misalnya saat anak mau masuk sekolah, mereka menyurvei dulu beberapa sekolah untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan sekolah tersebut.

Pipin menuturkan, metode sidik jari dapat dijadikan sebagai praedukasi bagi orang tua. Setelah mengetahui kecenderungan pola asuhnya, orang tua perlu merancang stimulasi untuk anak secara tepat.

Orang tua perlu mengombinasikan gaya asuhnya dengan kebutuhan dan kondisi si anak. “Begitu bermanfaatnya pengetahuan mengenai gaya asuh ini, sehingga sebagian kalangan psikolog menganjurkan para ibu untuk mencoba inovasi analisis sidik jari. Ditambah dengan perancangan stimulasi yang tepat, orang tua maupun anak-anak akan beradaptasi dan si anak dapat berkembang dengan baik,” lanjut dia.

Bagaimana pun hasil analisis sidik jari ibu, lanjutnya, orang tua disarankan untuk menjalin komunikasi secara intensif dengan anak-anaknya. Orang tua juga perlu mengendalikan emosi. “Orang tua perlu share, agar tidak banyak marah-marah. Kendalikanlah emosi terlebih dahulu,” imbuh Pipin.

Pipin menuturkan, selama ini, penelitian optimalisasi tumbuh kembang anak hanya berpatokan pada hasil analisis sidik jari anak. Dari situ, orang tua dapat mengenali gaya belajar, soft skill, kemampuan eksplorasi, dan analisis potensi bakat anak.

“Pengenalan sifat ini bermanfaat untuk mengarahkan anak secara efektif dan efisien,” paparnya. Analisis sidik jari itu merupakan potret atau gambaran asli saat si anak terlahir di dunia. Oleh karena data yang diolah merupakan data biometrik, analisis sidik jari ini bersifat permanen, spesifik, dan klasifikatif.

Secara empiris, sebanyak 75% subjek penelitian mengatakan bahwa hasil analisis sidik jari relevan dengan kondisi anak yang sebenarnya. Sedangkan sisanya menyatakan bahwa hasil analisis sedikit berbeda dengan perilaku anak sehari-hari. Hal ini dikarenakan perilaku anak sudah dipengaruhi lingkungannya.

Oleh sebab itu, Pipin mengingatkan, kita harus menyadari bahwa metode analisis sidik jari berbeda dengan psikotes. Metode ini juga bukan bagian dari ramalan.

Ia menjelaskan, hasil psikotes tergantung pada kondisi kala seseorang menjalani tes. “Hasil analisis sidik jari bisa melengkapi psikotest, namun analisis ini bukan milik psikologi. Akurasi rata-rata metode analisis sidik jari sekitar 87,91%, sedangkan pada psikotes sekitar 65%,” ucap dia.

Dalam pengolahan, tambah dia, validitas analisis sidik jari juga tidak bisa dibandingkan dengan psikometri. Sebab, sumber data yang digunakan keduanya berbeda, di mana fingerprint analysis menggunakan faktor biologis dan psikometri faktor psikologis.

Psikolog anak dari Psychobiometric Research Efnie Indranie, MPsi menambahkan, secara psikologis ibu merupakan figur yang paling intim dengan anak. Tanpa mengesampingkan peran ayah, si ibu memiliki peran besar terhadap tumbuh kembang anak, baik lewat pemberian nutrisi yang sehat maupun stimulasi yang tepat.

“Agar memperoleh hasil yang optimal, pemberian stimulasi kepada anak mesti dilakukan secara tepat. Banyak temuan, ibu sulit menyesuaikan diri atau tidak match dengan anaknya. Kadang mereka kesal sekadar karena anak-anak tidak menuruti kemauannya,” ujar dia.
 
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar